February 8, 2019

Izinkan Aku Lelah


Ternyata aku lelah,
aku cukup lelah.
Aku lelah mengutamakan orang lain.

Mengerahkan waktu,
pikiran,
perasaan.

Tidak, aku tidak sebaik itu.
Tapi aku melakukannya.
Bukan berarti aku sebaik itu.

Kini, aku menangisi diri.
Menuntut jawaban atas
"mengapa kau ulangi lagi?"

Padahal sudah ku punahkan rasaku.
Ku bangun ulang tembokku.
Ku tata rapih sikapku.

"Bukankah kau berhasil?
Tidakkah kau merasa
baik-baik saja melaluinya?"

Lagi-lagi menuntut jawaban.
Mencoba kilas balik waktuku.
Bagian mana yang bercelah?

Jangan salah.
Aku yakin sempat
menyayangi diriku sendiri.

Tapi perih ini,
seperti bertanya kepadaku,
"apa selama ini kau tak sadar?"

Alih-alih menyayangi diri,
aku justru membuang diri,
mencoba selalu ada.

Padahal petunjuknya jelas;
Sisihkanlah waktu,
untuk dirimu sendiri.

Kini, aku sudah sadar.
Aku sedang melakukannya.
Aku sadar mengapa melakukannya.

Ternyata aku butuh,
aku cukup butuh.
Aku butuh menengok ke arahku.

—

Kepada seseorang, aku sangat berterima kasih, telah menyadarkanku.

September 11, 2017

| I'm Done |


I'm done enough
forgiving anyone.
I'm done treating them
way better than they did.

I tried to be fine,
yet they broke me down.
I kept standing on my own,
yet they kept destroying me.

So I promise myself,
I'm done enough.      

Sarah Diza
 

May 5, 2017

I'm (Not) Okay.


How to feel okay?

Sebuah pertanyaan yang berlarian di kepalaku, menuntut jawaban. Aku terdesak. Bukan karena aku butuh terlihat baik-baik saja. Semua orang mudah memperlihatkannya, bukan? Yang kau lihat tertawa setiap pagi, bukan tidak mungkin ia tenggelam dalam tangisan di malam hari. 

Aku terdesak untuk merasa baik-baik saja. Bahkan aku mempertanyakan, bagaimana caranya? Karena akhir-akhir ini aku sangat kesulitan untuk merasa baik-baik saja. Parahnya, aku lebih memikirkan keadaan orang lain ketimbang diriku sendiri. 

Berawal dari kesadaranku tentang 'aku yang rumit'. Berkali-kali aku mencari tahu, bagaimana menyederhanakan pikiranku? Terlalu rumit untuk sekedar dipahami. Hingga aku sadar, mungkin hal itu justru menyakiti orang-orang disekitarku. Aku tidak mau mereka ikut-ikutan rumit memahamiku. Akhirnya, aku memutuskan untuk tampil 'sederhana'. Mereka tidak perlu kesulitan untuk memahami kerumitanku. Mereka tidak perlu tahu bahwa aku adalah seseorang yang sangat cemas. Tidak perlu tahu bahwa aku sangat pemikir. Bukankah aku sedang mempermudah orang-orang untuk menyayangiku?

Nyatanya, mereka menjadi angkuh, tidak mau tahu. Tidak perduli? Toh, Sarah yang selama ini mereka kenal bukanlah seseorang yang kacau. Ya, kan? Bukankah selama ini baik-baik saja? Aku menutupi rasa cemasku, tidak ingin mengungkapkannya. Untuk apa? Bisa-bisa mereka pergi menjauh karena terlalu pusing mengertiku. Memikirkan hidup masing-masing saja sudah susah, apalagi untuk memahamiku. Namun, rasanya seperti tidak ada yang mau perduli. Tidak ada yang mau tahu bahwa aku ingin merasa baik-baik saja. Apakah jika aku terlihat baik-baik saja, maka aku tidak perlu diperdulikan? Apakah aku tidak boleh merasa ingin diperdulikan? Apakah permintaanku kepada Tuhan terlalu muluk? Meminta setidaknya ada satu orang saja mau memperdulikanku.

Kata orang, berlaku baiklah, maka kebaikan akan datang kepadamu. Fakta kah? Membuatku mempertanyakan, apakah aku kurang perduli terhadap orang lain? Apakah aku tidak pantas mendapatkan timbal balik? Ataukah memang hanya aku saja yang membuang-buang waktu memikirkan orang lain, disaat orang lain hanya mempunyai waktu untuk memikirkan diri mereka sendiri.

Tetapi, aku tetap bersyukur. Setidaknya Tuhan selalu perduli. Membuatku semakin dekat dengan Tuhan. Rasa hampa ini justru tidak membuatku membenci Tuhan. Aku percaya Tuhan selalu mendengar umatNya. Seberapa pun sulit keadaannya, aku tahu Tuhan selalu memelukku dari atas sana.

I just want to be saved.

April 27, 2017

Merasa Cukup

Aku merasa perlu mengungkapkan ini. Sudah lama sekali aku tidak mencoba meluapkan hal-hal yang tidak kuungkapkan. Hal itu dimulai semenjak aku merasa bahwa orang-orang disekitarku tidak perlu merasa 'terancam' dengan ketakutanku, jika aku tidak menceritakannya.

Ketakutanku menyeruak kembali, seperti mimpi buruk. Bahkan aku tidak mau merasakannya lagi. Bayangkan saja, aku sangat ketakutan tetapi harus menyembunyikannya agar orang disekitarku tidak perlu merasa 'terancam'. Ketakutanku memuncak ketika logikaku bahkan tidak membantu. Aneh bukan? Padahal aku sangat mengagung-agungkan kekuatan logika. Mencoba menjalani hidup dengan realistis. Tapi, walau kau berusaha sekeras mungkin, apabila kau belum siap menempuhnya, maka Tuhan pun akan berkata tidak. 

Kurasa, salah satu kunci untuk bahagia adalah dengan bersyukur. Semua orang punya definisi rasa syukur masing-masing. Baru ini aku telah menemukannya. Bersyukur ialah ketika kamu telah merasa cukup. 

April 15, 2017

When Reality Slaps You


Nyatanya,
rasa sakit akan
tamparan tangan ratusan kali,
tak akan sebanding dengan
perihnya ditampar kenyataan
walau hanya sekali.

April 1, 2017

| Blame on Me |


Been blaming myself
for too long
believing that
what's mine,
will always be
mine.

Sarah Diza

December 10, 2016

| Home |


So i decided to
stop searching for
the meaning of home since
everytime i look at you,
my heart tells me that
im already home.

Sarah Diza

May 12, 2016

| The Darkness |


She's busy,
searching for the answer of
many questions that filling her mind.

Then,
she ignores people
who wondered if
she's already lost
inside her own mind.

It's too dark,
she'll never know
what kind of place
she has been living.

She tries to go
but she can't find 
the way out.

Because the darkness
is inside herself.

Sarah Diza