Omgggg:')))))) Actually, I'm totally love all of their songs. A hardcore band, and this band was formed in 2009. With Ears to See and Eyes to Hear is highly recommended! You have to hear it:-)
October 17, 2012
October 16, 2012
Kata orang-orang, untuk menjadi tidak perduli itu mudah. Mungkin, tapi bagiku tidak. Rasanya seperti harus mengerti sesuatu, tapi cuma bisa memendam. Aku bisa saja terlihat palsu karena tidak mau perduli. Tapi kumohon, sesulit inikah untuk mencoba tidak memperdulikan hal yang paling kamu perdulikan?
October 6, 2012
No One is Perfect, God is
Have you ever seen a man who doesn’t think that he’s smart
and he feels useless because he can’t do anything for himself and others? Or
maybe, have you ever known about a man who believes in God, but always afraid
of everything that he never tries? If you haven’t, then I’ve ever. I’ve
seen and known that man and that person is my friend. She’s a girl, and maybe I
can call her as my bestfriend. She’s smart enough, I think. But she doesn’t has
any self-confidence. So, she keeps all that she knows alone. She believes in
God, but she doesn’t believe that she can do something which is may help her
problem. In my opinion, the ones who don’t believe in theirselves but they say
that they believe in God, not really mean it at all. Because, if they believe in God, they’ll believe in theirselves
automatically.
I’ve
ever heard about, “No one is perfect, but
God is the perfect one.” I think that quote is true. Who’s perfect in this
world? Nobody. And if you think that you’re perfect, think twice. Example,
maybe there’s a girl who is rich, pretty, smart, etc. But, could you see her own
problem? I mean, her own ‘family-problem’? Maybe she’s a broken-home girl, or
her parents always fighting everyday. You may guess that person who looks
perfect from the outside is a happy person, because you don’t know his/her own
problem. I have a friend in my school. She’s pretty, rich, and have many
friends. But do you know how smart is she? I think the knowledge in her brain
is 0%, LOL. Because she’s always thinking that money is everything. So, she can
‘buy’ her score at school, such a jerk thing, right? And I don’t know why,
people who think that they’re perfect, always judge others from their
appearance. No one is perfect. Including me, you, our parents, and people.
So,
look at yourself first before judge someone. We-are-not-perfect. You may say
that you’re perfect because you have everything. But remember, God is the
perfect one. And always be like that. Accept the truth that nobody’s perfect
doesn’t mean that you don’t believe in yourself. You may not perfect, but make
something perfect. In short, we’re imperfect, but we can make everything
becomes perfect.
July 8, 2012
Rewrite: Azmi Lathief
Let me introduce you to, my kind of bestie, Lathifatul Azmi Habiba.
Dikenal baik dengan nama Azmi Lathief dan akrab disapa dengan panggilan Azmik. Ulang tahunnya empat tahun sekali! Aku mulai mengenalnya semenjak dipertemukan di salah satu tempat kursus, tepatnya saat kami menduduki kelas 1 SMA. Sebelumnya, sudah pernah menuliskan tentangnya. Namun, kurasa saat itu aku terlalu mudah menuliskannya disaat aku belum mengenal dia begitu dalam. Jadi, aku memutuskan untuk menuliskannya kembali.
Azmik adalah salah satu orang yang kukenal baik hingga saat ini. Termasuk orang yang kujadikan tempat mengadu suka-duka, bertukar cerita maupun pikiran, berbagi solusi, bahkan tempatku berkaca agar aku bisa sekuat dia. Azmik sosok yang kuat, rendah hati, ulet, juga pekerja keras. Untuk masalah pikiran, sedikit banyaknya, ia hampir mirip denganku. Kami sama-sama "rajin" mengumpulkan pikiran, memikirkannya sampai mengernyitkan dahi. Mungkin kesamaan inilah yang membuatku merasa dia pantas untuk kujadikan seorang sahabat. Kalau kau tanya kesamaan kami yang lain, ya, bisa dibilang kami sama-sama gila. Aku masih ingat dulu menghabiskan waktu dengan tawa-tidak-anggun semasa kami berada di tempat kursus. Rutinitas wajib saat itu adalah menikmati Indomie setelah pulang jam kursus hingga malam.
Tulisan sebelumnya dibuat pada tahun 2012 dan aku menuliskannya ulang di penghujung tahun 2016. Sudah 4 tahun berlalu sejak kami mulai berteman, semoga bisa bersahabat sampai tua ya, Mik? Bertahun-tahun mengenal Azmik, bukan berarti kami tidak pernah berbeda pemikiran. Sempat mengalami hal tersebut hingga kami menjadi kaku, bahkan seperti enggan ada keinginan untuk memperbaiki. Yang kurasakan saat itu adalah takut semakin memperburuk keadaan.
Terkadang, memperbaiki sesuatu pun butuh waktu.
Mungkin benar apa kata orang, kekecewaan paling bisu adalah kecewanya orang rendah hati. Bisa dibilang aku berusaha membuat ia kembali berlaku seperti semula. Tapi, seperti yang kukatakan sebelumnya, bahkan memperbaiki sesuatu juga butuh waktu. Awalnya terlihat sulit, tapi Tuhan berbaik hati, sampai-sampai ia sudah kembali seperti Azmik yang biasanya kukenal. Hal ini membuatku belajar untuk lebih menghargai orang lain. Life is about learn the life-lesson, right?
Lesson learned.
Hal lain yang kuingat dari Azmik adalah caranya me-labelkan dirinya sebagai "The Undesirable". Jangan tanya kenapa, karena beberapa tahun mengenalnya pun aku tidak mampu mengubah keyakinannya bahwa dia berharga untuk semua orang disekitarnya. Bagaimana tidak? Orang-orang disekitarnya terlihat sangat menyayanginya. Bahkan dilihat dari banyaknya relasi yang ia miliki, ia bisa dibilang orang yang menyenangkan untuk dikenal. Banyak yang ingin mengetahui Azmik lebih dalam. Mungkin karena kerendahan hatinya setiap kali teman-temannya berbagi cerita. I'm all ears, itu yang selalu ia katakan kalau-kalau ada yang membutuhkan ia jadi pendengar. Tuh, kan, bagaimana bisa aku mendukungnya menggunakan label "The Undesirable"? Hahaha. Pernah mencoba mengubah pandangannya tentang dirinya sendiri tapi tidak mempan. Bagaimanapun juga, kurasa dia punya alasan tersendiri me-labelkan dirinya. Semua orang pasti punya alasannya sendiri, kan? Bagiku, yang penting dia tahu bahwa aku, dan teman-temannya yang lain, menganggap dia berharga.
Too precious to wear the Undesirable label.
Sudah jarang ketemu Azmik, banyak cerita masing-masing yang terlewatkan. Mungkin kalau kita ketemu nanti, satu hari nggak cukup untuk saling tukar cerita, ya, Mik? Yah, kapan-kapan kita bisa tukar pikiran lagi sambil ngopi, di Coffee Toffee yang mas-mas disana dulu sampai hafal kalau kita pelanggan terbaik!:))
Nih, kusisipkan foto terbaru dengan Azmik. Kita jarang foto, sekalinya foto kadang-kadang fail. Hahaha tapi nggak apa-apa, itu yang bakal dikenang nanti sewaktu tua. Oh, ya, bagi kalian yang ingin membaca tulisan-tulisan Azmik, kalian bisa mengunjungi blognya: Azmi Lathief. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal, Mik! Jangan ragu untuk membagi sedikit dari otakmu yang penuh itu karena I'm all ears just like what you always do!
[Sarah - Azmik]
4 years being bestie and still counting!
4 years being bestie and still counting!
A Girl Must Be...
"A girl must be strong, not weak."
Aku sudah pernah merasakan kebahagiaan, tangis haru, kesedihan, sakit hati, bahkan amarah. Aku sudah pernah mempelajari masalah-masalah dalam hidupku. Mungkin melelahkan. Tidak ada masalah yang tidak melelahkan. Namun seiring berjalannya waktu aku mulai sadar. Problems are challenge.
And the challenge is: how to solve them by yourself.
Aku berkali-kali jatuh-bangkit-jatuh-dan harus bangkit. Aku mungkin dulu sosok yang menyedihkan. Kalau diingat-ingat, aku mungkin malu sekali jika di harus flashback. Sosokku dulu mungkin sangat kekanak-kanakan. Aku bahkan sering masuk ke dalam masalah-masalah teman-temanku, yang maksudku dalam niat membantu. Mungkin satu tahun yang lalu, atau hanya beberapa bulan yang lalu. Aku merasakan penghinaan luar biasa. Saat itu benar-benar puncaknya aku menjadi anak yang cengeng. Aku menangis, emosiku tidak pernah stabil. Namun aku mulai belajar. Belajar mengendalikan diriku sendiri. Entah kenapa rasanya seperti aku terbangun dari tidur yang panjang dan menjadi seseorang yang baru. Aku jarang sekali menangis satu tahun belakangan ini. Sedih pun hanya kurasakan beberapa kali saja. Mungkin bisa dibilang aku lebih pendiam dari sebelumnya. Dulu, aku sangat peduli terhadap teman-temanku yang sedih-karena-cowok, menangis-karena-berpisah. Tetapi, aku sekarang malah tidak begitu peduli dengan mereka yang menangis-lalu mengutarakannya lewat Twitter-bercerita tentang kronologi kesedihannya. Aku lebih menghargai perempuan yang mampu kuat walaupun banyak sekali masalah yang membuatnya sedih.
Kenapa harus menjadi sosok yang menyedihkan?
Perempuan harus berprinsip kuat. Menjadi sosok yang tegar lebih baik daripada harus menangis dan menceritakan kepada orang lain lalu membuat sudut pandang orang tersebut menjadi 'saya prihatin dengan kamu'. Jangan khawatir, Tuhan memberi masalah sesuai porsinya. Jadilah sosok yang tangguh. Aku memang belum setangguh itu. Tapi aku belajar. Karena sebenarnya seorang perempuan seharusnya adalah sosok yang tegar dan kuat, tidak lemah.
July 6, 2012
What Friends Are For?
Semua orang sudah tau pastinya tentang apa-guna-teman. Teman memang selalu ada. Teman aja selalu ada, bagaimana dengan sahabat? Pasti lebih lebih lebih segalanya & selalu ada. But, sometimes, I hate those sentences. Pembunuhan mental, terutama mind-set. Bagaimana bisa orang-orang mengatakan bahwa teman dan sahabat akan selalu ada disaat kita butuh -'cause that's what friends are for- sedangkan, setiap harinya pasti kita akan bertemu orang-orang baru yang tentunya akan menjadi orang terdekat kita nantinya. Teman atau sahabat tidak selalu ada disaat kita butuh. Mereka semua punya urusan masing-masing. Kadang aku merasa kesepian. Sepi. Kadangpun aku tidak pernah tau adakah yang membutuhkanku. Hanya saja aku berterimakasih dengan Tuhan, karena baru saja aku tau yang mana teman yang menurutku benar-benar ada. Although, mereka tidak selalu ada. Kadang aku benci harus berhadapan dengan mereka yang hanya membutuhkanku saat mereka ada masalah. Tetapi kenapa mereka hilang disaat aku membutuhkan mereka? Bukankah suatu pertemanan membutuhkan feedback? Sering aku ingin membalas mereka, mungkin dengan cara tidak begitu me-respon mereka. Namun, kenapa aku harus kehilangan diriku sendiri dengan menjadi seperti mereka?
"Be nice, be yourself. You don't have to change like them
just because they don't treat you as you treat them."
July 4, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
