March 30, 2020

When Would I?


Hampir setiap malam aku menangisi hal yang tidak kuketahui. Tanpa sebab, selalu mengalir begitu saja jika terasa sakit. Tidak jarang dadaku sesak, menahan suara tangis agar tidak terdengar siapapun. Tapi itu bukanlah alasan untuk menceritakannya ke orang lain. Aku harus tetap terlihat baik-baik saja. Terkadang aku berbohong bila perlu. Jika orang ingin aku bercerita, kukatakan secukupnya. Jika orang mencemaskanku, kutunjukkan bahwa aku tidak apa-apa. Sejauh mereka tau aku baik-baik saja, sudah cukup, kan? Ini caraku untuk meyakinkan diriku sendiri.

Terkadang jika sudah terlalu lama menahannya, kutumpahkan saja sambil tertawa. Menjadikan itu hal yang menarik untuk bahan bercanda bersama teman. Andai saja aku bisa mengatakan bahwa bukan seperti itu respon yang kubutuhkan. Bukan begini inginku mengungkapkannya.

Andai saja aku bisa langsung menangis ketika seseorang bertanya apakah aku baik-baik saja. Andai saja aku tidak perlu tertawa saat seseorang menjawab "nggak ada yang tau, Sar" ketika aku berkata "aku nggak apa-apa gini, lho." Andai saja aku bisa mengakuinya. Andai aku bisa sedikit saja menunjukkan bahwa aku tidak baik-baik saja.

Aku tidak bisa menepis begitu menusuknya menanggung sendiri, begitu pahitnya sakit sendiri. Apakah rasanya harus seperti ini? Terasa perih jauh di dalam sana. Hampir setiap hari selalu terbesit pertanyaan kepada diriku sendiri, "when would you admit that it isn't okay?"


Aku.. sungguh-sungguh merasa kehilangan sosok yang memahamiku tanpa perlu kuungkapkan.


March 25, 2020

Days Without You


I do push-up today, as it isn't my routine, I stop on seventh count. I laugh, wonder if I tell you, you would be laughing too and obviously give me advice of other easy exercises. I automatically remember the way I teased your count while you did push-up on our video call. I go to minimarket, buy some foods and pick six cans of Bear Brand, as you told me to drink it routinely. Getting back to my room and search for some simple recipes so I wouldn't be bored. I checklist several recipes that I want to cook in a week, wonder if I could show you off the result, would you be proud of me? I turn my mind to listen to my currently favorite song, what's yours? Are you still listening to the songs that I like and you play me its guitar? I miss the way you play me Remembering Sunday by All Time Low or My Heart I Surrender by I Prevail. I'm missing that part, always.

I randomly think of how you're doing there. How your day goes on. Are you fine? Sigh. Hoping that reach you out as easy as it seems. 

I peel the orange and eat it. Really want you to know how proud I am of myself for eating fruit! I check my phone and my friends tell me the newest information of our current country situation. Do you know this information too? I hope so. Let's distract my mind over you by playing game. Of course the only game in my phone is Onet. Thanks for recommending this, it really helps to distract me as it's so hard to go on to the next level!

I'm hungry and looking for something to eat. Instant noodle. I always want to ask your permission everytime I want to eat that. I know it isn't necessary, but it always feels like you help me to restrict this. I miss the way I ask you whenever I need to. What kind of variant do I want to cook? I pick the Ayam Bawang but then my eyes see the Soto Mie variant. Ah, I always remember that you like Soto Mie. My mind goes to the day we went to Bogor, searched around for food, we walked through the Soto Mie cart. I offered you but you told me you were bored eating that as you already had it days ago. Then I remember we walked across the street, you wrapped your arm around my neck, ate fried chicken for lunch, took break in mosque, had a good walk and talk at Kebun Raya Bogor. Why can't I get you out of my mind?

It's time to sleep. I spend my every single night hoping that I have the chance to meet you again. I look at the roof and wonder again, would you feel grateful someday that you met me in your life? A never-ending question. 

...and my days without you always goes like this. I also wonder why. I just learn that this is how to love someone in silence.

March 22, 2020

Brutal Truth


i wish i could tell you,
how much it hurts
to spend every single night
crying over your shadow,
missing your presence,
and loving you in silence.

November 15, 2019

4am Thoughts


here comes the day i wonder
if i possibly lose you,

past doesn't affect me to be protective or
possessive person. i set him free,

'cause no matter how hard i keep someone,
if the person wants to go, he would.

so i love him freely,
and hope that nothing
could
disappoint
me.


 s.d

July 17, 2019

Describing You


"

Aku tidak bisa memahami cara kerja "kebetulan".
yang aku tahu, sesuatu selalu diatur sedemikian rupa.
Manusia hanya mampu menjalani dan mengusahakan,
menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

"


Bertemu dengannya tidak bisa kuanggap sebagai kebetulan.
Kalau bisa digambarkan, lebih condong ke rasa syukur.
Seperti rasa syukur akan orang-orang bermakna di hidupku.
Tetapi dia menempati ruang yang lebih khusus.
Ruang yang tidak dengan mudah kubiarkan orang masuk.

Dia datang tepat pada waktunya.
Saat luka sudah terlalu lama dibiarkan menganga.
Saat tidak ada tempat untuk merasa lebih baik.
Saat hati tidak ingin lagi terusik hingga terasa mati.
Saat aku terlalu lupa mencintai diriku sendiri. 

Dia datang dengan tawa yang hangat.
Sifat yang mudah ditemukan di manapun,
tapi pribadi yang jarang ditemukan dalam diri setiap orang.
Tidak semua orang bisa melihat ke dalam dirinya.
Tidak semua orang bisa merasakannya.

Dia seperti tidak asing bagiku.
Seperti melihat sosoknya dalam diriku beberapa tahun lalu.
Aku merasa sangat dekat dengan tawanya, lukanya.
Tanpa kusadari semakin mengenalnya,
semakin aku ingin ada untuknya.

Aku menikmati setiap detiknya ku-
menyukai tawa hangatnya,
memahami kesedihannya,
mengagumi karakternya,
dan mensyukuri kehadirannya.

Aku bisa leluasa menyukainya,
tanpa perlu mengurangi rasa suka kepada diriku sendiri.
Aku bisa menikmati waktu dengannya,
tanpa perlu takut kehilangan diriku sendiri.
Aku bisa tenang melepasnya,
tanpa perlu khawatir dia akan menghilang.

Rasanya seperti selalu yakin kami akan kembali.
Sejauh apapun kaki kami berlari,
selama apapun waktu yang kami butuhkan,
aku selalu percaya kami akan
saling kembali ke tempat semula.

Aku tidak berbohong jika yang paling kuinginkan adalah
mampu berada di sisinya kapanpun dia butuh,
saling membagi tawa dan kesedihan tanpa perlu meragu,
menyaksikan setiap momen yang berarti untuknya.
Aku tidak berbohong jika aku ingin sekali.

Dia membuatku merasa bahwa pertama kalinya
ada orang yang pantas untuk diperjuangkan.
Meski terkadang jalannya terasa tidak mudah,
tapi aku tahu semakin tekun merawatnya,
semakin menuai hasil yang indah.

Dia menjadi satu-satunya yang berkata,
"jadilah baik untuk dirimu sendiri."
Tidak butuh waktu lama untuk sadar
bahwa aku ternyata menantikan sosoknya.
Sosok yang kukira tidak akan kutemukan.

sosok yang paling singkat membuatku jatuh, tetapi yang paling dalam memahamiku.

Aku sangat tahu bahwa
tidak ada yang mampu
menjanjikan apapun di dunia ini.
Tapi jika diizinkan berharap,
semoga langkah kaki kami, akan tetap selaras.

...dan semoga kali ini Tuhan membiarkanku benar.


July 4, 2019

Suicidal Thoughts Are Real


Aku dulu selalu berpikir bahwa orang-orang yang memiliki keinginan untuk membuang hidupnya adalah manusia terbodoh yang pernah ada. Bahkan rasanya aku ingin memaki, yang mereka lakukan buruk sekali. Saking tidak habis pikirnya sampai aku tidak perduli dengan mereka. Iya, meski aku mempelajari ilmu psikologi, tapi aku menjadi salah satu dari sekian yang tidak respect dengan orang-orang yang berkeinginan untuk bunuh diri. Bagaimana tidak? Hidup cuma sekali bagaimana kamu menyia-nyiakannya dengan mudah. Tidak pernah terlintas di otakku untuk membuang hidup, bahkan secara cuma-cuma seperti itu.

Tidak kusangka aku termakan dengan omonganku sendiri. Aku, menjadi salah satu dari mereka. Awalnya keinginan itu tidak terasa kuat, atau mungkin tidak kugubris. Tapi muncul satu waktu, disaat aku benar-benar kehilangan arah, aku ingin sekali mengakhiri segala hal. Rasanya? Letih sekali, mentalku seperti terkuras habis. Tapi aku jauh lebih letih hidup dengan ketakutanku, amarahku, kesedihanku. 

Orang-orang yang kusayangi adalah energi bagiku. Aku senang sekali berada diantara orang-orang. Aku menyukai suasana yang hidup, kalau bisa aku yang selalu menghidupkannya. Saat mereka tidak ada? Aku merasa seperti benar-benar sendirian. Segala pikiran jahat menguasaiku. Apa mereka masih menyayangiku? Apa mereka membutuhkanku? Kalau aku tidak ada apa mereka baik-baik saja? Kalaupun aku ada memang aku sudah sebaik apa? Aku selalu merasa tidak cukup baik untuk semua orang. Tentu saja ini hanya ada di kepalaku, orang lain tidak boleh tau. Sialnya, aku makin merasa sendirian, karena orang tidak tau. 

Akhirnya aku mulai menarik diri dari mereka. Berharap bisa menemukan diriku lagi. Tapi aku justru semakin menjauh. Keinginannya semakin meledak-ledak. Di pikiranku hanyalah bayangan tentang seberapa menenangkannya jika aku pergi. Aku tidak perlu merasa letih, tidak perlu khawatir jika diriku tidak cukup, tidak perlu berpikir rumit, tidak perlu mengecewakan orang lain. Ingin bertemu Mama, ini juga semakin menguatkan keinginanku.

Aku tidak melukai diriku sendiri, aku merasa sudah terluka dengan pikiranku selama aku hidup. Beberapa hari sebelum itu, aku mengonsumsi obat tidur secara rutin setiap malam untuk menenangkan pikiranku. Tapi sepertinya lama-lama menjadi kebal dan menuntut dosis lebih. Aku hendak menggunakannya untuk ini. Karena aku hanya ingin merasa tenang lebih panjang. Aku semakin menggebu-gebu, berpikir tentang cara lain seperti mengikatkan diri ke tali dan sebagainya. Aku benar-benar menghabiskan hariku untuk menangis, menghilangkan diri dari orang-orang. Toh, mereka pasti berpikir aku baik-baik saja.

Hingga akhirnya hari itu, aku merasa ingin sekali menghubungi satu orang. Di saat pikiranku kalang kabut bersamaan dengan angan betapa indahnya membayangkan tidur yang panjang, aku memberanikan diri. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata ada yang perduli. Ada yang menginginkanku untuk tetap bertahan hidup. Ada yang membutuhkanku meski hanya sekadar "ada". Akupun mengurungkan niat di hari itu, berpikir bahwa mungkin akan kulakukan lain kali. Tetapi lagi-lagi aku diselamatkan.

Tanganku digapai ketika hampir tenggelam terlalu dalam.

Setelah hari itu aku sangat bertekad untuk melawan segala keinginan itu. Aku ingin hidup lebih panjang dan hadir untuk orang-orang yang kusayangi. Aku ingin lebih menikmatinya. Aku ingin menebak apa yang akan terjadi di depan. Tapi tidak semudah itu melepaskannya. Aku masih menjalani hari-hari penuh kebimbangan. Aku seperti mendengar suara yang menyuruhku untuk kembali memikirkan niat sebelumnya. Ketika tidur, aku memimpikan hal-hal ganjil seperti ada yang menginginkanku untuk tetap melakukannya. Tapi semua berangsur membaik seiring dengan bantuan dari orang-orang disekitarku, usahaku mengontrol pikiranku, dan tentunya dengan pertolongan dari Tuhan.

Aku ingin dan akan hidup lebih panjang.

Setidaknya aku bersyukur, dengan begini aku jadi memahami mereka yang merasa putus asa dengan hidup. Betapa mereka sangat membutuhkan dukungan, atau minimal kehadiran orang lain di sisi mereka. Saat itu aku merasa sangat kalut ketika sendirian, mungkin jika satu orang tadi tidak "menyelamatkanku", aku tetap ada pikiran itu sampai sekarang. Satu hal yang kuketahui, orang-orang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri bukan berarti tidak tau resiko, tidak belajar agama, tidak ber-otak, dan sebagainya. Mereka jelas tau, bahkan mungkin itu hal-hal yang paling mereka pahami. Tetapi mereka juga sangat tau, bahwa rasa putus asa dan letihnya jauh melebihi itu semua.

[June 14, 2019]

June 24, 2019

Another Grateful Day


Something makes me happy today!

Entah kenapa aku ingin sekali mengabadikan apa yang terjadi hari ini. Ya, hal kecil yang membuatku semakin mengerti seberapa dalamnya rasa syukur. 

Malam ini aku ingin sekali makan pangsit mie ayam! Berpikir kalau itu adalah ide yang bagus membuatku bergegas membuka aplikasi Go-Food. Cukup lama bagiku menentukan tempat makan mana yang seharusnya kupilih (meski pada akhirnya aku memilih pangsit mie ayam yang dulu pernah kupesan). Oke, order! Kebiasaanku adalah mengamati baik-baik wajah driver yang mengantarkan pesananku dari fotonya. Setelah mengamati, biasanya aku menyimpulkan bagaimana sifat driver ini dan berapa perkiraan usianya, hanya dari foto dan gaya chat (ini memang otomatis berputar di kepalaku, kebiasaan buruk!). Untuk apa? Entahlah, hanya suka was-was sendiri. Kebiasaan buruk yang kedua, suudzon! Tidak kenal tapi sudah suudzon duluan dan main menyimpulkan. 

Untuk mengalihkannya, aku bermain handphone dan menyiapkan uang untuk driver tersebut. Pada aplikasi tercantum totalnya Rp 61.000,00. Aku menyiapkan uang Rp 62.000,00 dan berniat untuk tidak meminta kembalian. Tak jarang aku menemukan driver yang tetap ingin memberikan kembalian meski hanya lima ratus atau seribu rupiah. Tapi, tak jarang juga aku bertemu dengan driver yang tidak berinisiatif untuk memberikan kembalian (meski aku tidak memintanya). Yah, aku hanya merasa lebih senang dengan mereka yang lebih menghargai rezeki dan mendapatkannya dengan cara yang baik. Dengan ke-suudzonan di kepalaku, aku penasaran bagaimana dengan driver ini? 

Tidak lama, beliau sampai di depan rumah dengan pesananku. Tidak kusangka, beliau ramah sekali menyapa dari pagar. Padahal sebelumnya aku menilai bahwa beliau mungkin seseorang yang pendiam dan agak jutek. Berniat ingin membuka pagar, beliau dengan ramahnya menawarkan untuk memberikan pesanannya lewat atas pagar saja. Lalu, sambil menunjukkan total harga yang perlu dibayar, beliau berkata sambil tersenyum, "Harganya Rp 61.000,00 bayarnya Rp 60.000,00 aja." Sontak aku kaget sebentar, baru kali ini menemukan driver yang korting-in harga. Aku tetap memberikan uang yang tadi kusiapkan. Beliau mengamati uangnya sebentar, dan ingin memberikan kembalian. Refleks aku menolak dan ingin segera beranjak dari pagar. Tidak lama aku mendengarnya berkata dengan nada senang, "Alhamdulillah."

Tidak ada yang lebih menyentuh hatiku dibandingkan melihat orang lain bersyukur atas hal-hal kecil dalam hidup. Aku masuk ke rumah, menyantap pangsit mie ayamku, sambil berkata, "Padahal beliau  berniat mengikhlaskan seribu, tapi malah mendapat kelebihan seribu." Aku merasa bersalah sekali sudah suudzon, bagaimana cara menghentikan kebiasaan burukku ini, ya?!

Lalu aku berpikir, apa begini, ya, cara kerja hidup? Ketika kita mengikhlaskan atau memberikan sesuatu, pasti akan digantikan lebih oleh Tuhan. Kini aku mengerti kenapa beliau bersyukur, niat baiknya langsung dibayar lunas oleh Allah. Karena aku bersyukur bertemu beliau dan mengalami kejadian itu, aku ingin mengabadikannya melalui tulisan ini! Sewaktu-waktu aku merasa hidup tidak adil, aku bisa mengingat betapa menyenangkannya perasaan bersyukur. Untuk mensyukurinya, aku membagi sebagian lauk makananku kepada kucing-kucing lucu kesayanganku! :P




Aku tahu, Anda tidak mungkin membaca ini, Pak. Tapi semoga hidup Anda sekeluarga selalu bahagia dan dilindungi oleh Tuhan!

March 27, 2019

The Answers


Coming back with another progress of me! Sedikit demi sedikit menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan di otak ku. Mungkin pertanyaannya tidak mengganggu setiap saat, tetapi bisa jadi menghantui kapan saja.

Kenapa aku sangat takut kehilangan orang lain?
Terkadang ini membuatku bingung. Kalau melakukan kilas balik hidup, sebenarnya tidak ada alasan kuat mengapa aku sangat ketakutan. Orang-orang baik di sekitarku masih tetap ada. Ya, meskipun Mama adalah salah satu yang paling berharga, dan aku kehilangan selamanya. Tetapi setidaknya aku masih sanggup bertahan, kan? Apalagi dengan support psikis dari orang-orang sekitar. Kenapa masih takut?

Kalau kupikir, aku takut karena sepanjang hidup sempat mengalami kehilangan dengan berbagai cara yang menyakitkan. Sehingga aku semakin lama semakin "kebal". Ya kita semua pasti pernah mengalami kehilangan. Hanya saja cara dan respon dalam menanggapinya berbeda-beda. Aku kebal, bukan berarti perasaanku mati total, hanya saja aku tidak terlalu menaruh pengharapan lebih yang mungkin dapat berpeluang menyakiti hatiku suatu saat nanti. 

Orang-orang di sekitarku masih ada? Iya. Lantas bagaimana membuktikan bahwa ketakutanku mungkin akan terjadi? Bahwa semua orang mungkin saja akan pergi. Mengapa aku setakut itu? Ya... beberapa orang memang telah pergi. Meski tidak terlalu punya makna lebih, tetapi setidaknya mereka berkesan. Mereka pergi dengan cara yang menyakitkan. Tentu saja meninggalkan kesan buruk, kan, meski makna nya tidak dalam?

Kehilangan dalam artian seperti apa?
Awalnya kupikir kehilangan akan selalu berarti pergi. Pergi ke tempat jauh, sosoknya sudah sulit untuk kujangkau. Tapi setelah diresapi, bukan, bukan itu yang kurasakan. Bukan kehilangan yang seperti itu. Takut akan kehilangan itu adalah suatu hal yang... sangat abstrak. Ya, kan? Apa yang bisa kau jelaskan dari hal itu? Sulit sekali mendeskripsikannya. 

Hingga akhirnya setelah berdiskusi dengan seorang teman, yang merasakan juga adanya ketakutan yang sama, aku baru paham kalau kehilangan yang kumaksud bukan seperti itu.

Kehilangan; saat sosok ku dapat tergantikan oleh siapapun. Saat aku tidak memiliki makna lagi untuk seseorang. Saat kehadiranku tidak lagi dibutuhkan. Ini ketakutanku yang sesungguhnya. Bagaimana jika orang-orang yang punya makna di hidupku tidak merasakan hal yang sama denganku? Bagaimana jika aku tidak se-berarti itu? Bagaimana jika ada atau tidaknya aku bukanlah masalah besar?

Siapa?
Siapa yang paling kutakutkan untuk pergi? Entahlah, mungkin abstrak juga. Jelas aku paling takut kehilangan orang terdekat yang memiliki makna. Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali? Meski belum terbukti bahwa mereka akan benar-benar pergi.

Temanku bilang, ia juga takut aku pergi. Padahal aku tidak akan pergi. Kenapa? Bagaimana bisa aku dengan enteng menjawab disaat aku juga memiliki ketakutan terhadap semua orang. Ya tapi aku tidak akan pergi. Kenapa? Ya karena aku merasa memiliki deep connection dengannya. Aku menceritakan banyak hal, kekhawatiran, keraguan, ya meskipun tidak semua, tetapi setidaknya aku menceritakan paling banyak kepadanya. Dia pun jadi salah satu teman yang mendengarkan dan mau memahami. Bukan berarti teman-temanku yang lain tidak, hanya saja aku tidak banyak menceritakan hal-hal mendalam, lagi-lagi karena takut menyusahkan.

Adanya deep connection itu yang membuatku merasa tidak mungkin kalau salah satu dari kita pergi, atau saling menggantikan sosok masing-masing. Bukan karena terlalu percaya diri, tapi ibarat sudah menitipkan seperempat bagian dari diri satu sama lain. Bagaimana tidak? Ini bagian dalam diri yang kita bicarakan, kan? Bagian yang tidak mudah untuk dijangkau. Terkubur jauh di dalam diri.

Karena memang tidak mudah untuk sharing hal-hal semacam ini. Lagipula tidak semua orang dapat mengerti. 

Lantas apa dasar dari rasa takutnya?
Aku tidak terlalu khawatir bahwa sosok ku akan digantikan karena setidaknya dia tau bagaimana sisi tergelapku, dan dia tetap tinggal. Lalu siapa yang kutakutkan? Orang-orang yang tidak tahu seberapa dalam sisi gelapku. Semua orang punya sisi gelap, kan? Hanya saja melaluinya dengan cara yang berbeda. 

Jelas saja aku ketakutan sekali. Aku jarang membagikan hidupku dengan mereka? Aku tidak tahu akankah mereka tetap tinggal. Meski aku sangat yakin mereka adalah orang-orang baik yang sudah menjadi circle-ku. Tapi tetap saja, bagaimana kalau ternyata sosok ku se-menyebalkan itu? Serumit itu untuk dipahami? Lalu dengan mudahnya tergantikan? 

Tidak akan ada habisnya jika aku mengulas kemungkinan terburuk.

---

Yah, setidaknya aku menjadi lebih lega sekarang. Sedikit demi sedikit pertanyaan dalam otak ku terjawab. Meski mungkin masih akan ada pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tidak mengapa, hidup memang se-mengejutkan itu, kan? Setidaknya aku menuliskan ini agar dapat meresapinya setiap kali mengingatnya. Aku senang.