December 10, 2016

| Home |


So i decided to
stop searching for
the meaning of home since
everytime i look at you,
my heart tells me that
im already home.

Sarah Diza

May 12, 2016

| The Darkness |


She's busy,
searching for the answer of
many questions that filling her mind.

Then,
she ignores people
who wondered if
she's already lost
inside her own mind.

It's too dark,
she'll never know
what kind of place
she has been living.

She tries to go
but she can't find 
the way out.

Because the darkness
is inside herself.

Sarah Diza

May 8, 2016

| Lyf |


I imagine that life is an ocean,
and people are boats.

We sail,
follow the wind,
face the wave.

Sometimes the ocean can be so calm yet so wild
It seems so charming yet so frightening
It depends on how the boats through it

I imagine that life is an ocean,
and people are boats.

Sometimes life can be so simple yet so complicated
It can be so good yet so cruel

It depends on how you through it.

Sarah Diza

March 9, 2016

Aku kesulitan,
mengungkapkan hal-hal yang ingin kuungkapkan.
Menampakkan rasa yang ingin kutampakkan.
Terlalu terbiasa menyembunyikan,
hingga tidak tau cara menampakkannya kembali.

Luka, kujahit.
Perih, kutahan.
Tangis, kuusap.

Hingga merembet pada hal yang menyenangkan sekalipun.
Bahkan aku tidak bisa memberitahumu tentang rasa; peduli, takut kehilangan, kekhawatiran.

Yang aku lakukan hanyalah,
menyembunyikannya.

Maaf jika aku terbiasa.

September 25, 2015

Eccedentesiast.


Hari menjelang senja. 
Aku sedang duduk di depan seseorang yang kukenal baik. 
Ia menatapku, seperti tatapan kasihan. Aku tak suka. Aku paling tidak suka dikasihani.
Ia bertanya, “How’s life?
Seketika pandanganku kosong. Pikiranku menguap entah kemana.
Life?
Aku tetap diam.
Ia berkata, “Ceritakan saja. Apapun yang ingin kau ceritakan”.
“Aku harus mulai dari mana?”, tanyaku.
Ia hanya tersenyum. Aku mulai membuka mulutku dan mengungkap perih.

***

Aku mengoleksi topeng-topeng. Sangat banyak, tak terhitung jumlahnya.
Namun, semakin lama semakin habis. Entah hilang, atau dicuri orang.
Hingga aku memutuskan untuk menyerah.
Kalian boleh mengatakan aku sakit,
atau tidak waras,
atau menyedihkan,
atau apapun yang menyenangkan hati kalian.
Aku yang setiap hari kalian temui, bukanlah aku.
Dia orang lain, yang menguasaiku.
Dia tertawa, saat aku tidak ingin tertawa.
Dia menangis, saat aku tidak ingin menangis.
Tetapi, dia menguasaiku.

Mari kuperkenalkan aku yang sebenarnya.
Setiap harinya aku terbangun dengan perasaan yang kosong.
Aku selalu memakai topeng yang kunamakan topeng senang.
Setiap harinya aku membunuh diriku sendiri.
Menyediakan telinga, pikiran, perasaan untuk orang lain.
Tak apa, satu-satunya energiku ialah saat aku melihat orang bahagia karenaku.
Saat mereka sudah tidak membutuhkanku, energiku habis.
Dan aku harus pulang.
Ternyata benar kata orang. Rumah ialah tempat kamu mampu bertemu dirimu yang sebenarnya.

Diriku yang sebenarnya.

Setiap hari yang kulakukan ialah melepas topeng senang.
Kemudian duduk,
dan merenung.
Merenung,
lagi-lagi merenung.
Hingga dadaku terasa sesak dan aku tak kuat menahannya.
Kata orang, air mata membuatmu lega.
Bagiku, air mata membuatku sesak.
Rasanya sakit, sangat sesak. Tidak ada yang mampu menolong.
Aku terus menjalani hari-hariku seperti itu.
Sesak, sesak, dan sesak.
Tapi aku tidak suka mengakui bahwa aku menangis. 
Rasanya menjijikkan dan terkesan cengeng.

Bahkan saat menulis ini, aku sedang membunuh diriku sendiri.
Setiap harinya aku membunuh diriku sendiri.
Menghabiskan banyak tissue, salah satu contohnya.
Mama dan papa sering mengeluh. Kenapa tissue sangat cepat habis? Andai saja mereka tahu, anaknya sering membuang-buang tissue hanya untuk merasa lebih baik. 
Hanya untuk mengusap rasa sesaknya.

Sesak,
sampai aku tidak tahu kapan aku bisa bernapas lega.

***

Sudah bukan menjelang senja. Ini sudah berganti malam.
Pembicaraan itu ditutup tepat saat dadaku mulai terasa sesak. 
Aku hanya mampu menutup mukaku, kemudian kembali menghabiskan tissue.
Ia bertanya, “Sesakit itukah rasanya?”
Aku menatapnya. Menganggukkan kepala.
Ia hanya tersenyum. Aku terus menatapnya.
Lama-kelamaan wujudnya menjadi semu.
Aku terbangun dari lamunanku. Ia pergi.
Pergi dengan topeng senangku.
Hilang, hingga aku menyadari.

Ia adalah refleksiku.

March 28, 2014

Menjadi Fleksibel Itu (Tidak) Mudah

Kata mayoritas orang, menjadi pribadi yang fleksibel itu menyedihkan bahkan ada yang bilang memprihatinkan. Karena, secara nggak langsung, kita menjadi penikmat sepi. Mungkin saya adalah salah satu dari mereka yang menikmati sepi. Yup, saya memutuskan untuk menjadi fleksibel setelah saya cukup muak dengan omong kosong mereka yang bertopeng. Mereka yang memakai topeng saat bertemu saya, memperlihatkan seakan-akan semua baik-baik saja, tetapi setelah mereka pergi, mereka melepas topeng mereka, kemudian berkoar-koar tentang saya. Kejadiannya cukup lama, sampai saya tidak ingat jelasnya kapan, tetapi saya sangat menikmati menjadi orang yang fleksibel. Dan menjadi fleksibel sama sekali nggak menyedihkan.

Mereka bilang, sih, orang fleksibel itu kasihan, nggak punya teman tetap. Oh, ya? Lantas apakah yang mereka artikan teman tetap adalah mereka yang bergerombol, hingga membentuk geng? Malah setahu saya, mereka yang bergerombol, yang menunjukkan solidaritas mereka yang selalu bersama-sama, adalah yang memakai topeng. Nggak jarang kebanyakan dari mereka membenci satu sama lain, membicarakan perilaku sahabat mereka ke sahabat yang lain dalam satu geng. Parahnya, mereka juga ngadu kelakuan sahabatnya ke ‘orang lain’. Emang kadang semua yang terlihat, nggak seperti apa yang dibayangin. Mereka yang solid, seperti sahabat yang udah berkomitmen, malah saling membicarakan. Saya, sih, ketawa aja dalam hati. Katanya temen? Hahaha.

Saya suka menjadi fleksibel. Saya nggak perlu mengurusi masalah orang lain. Bukannya saya nggak peduli, jelas saya masih peduli, but sometimes we have our own privacy. Jadi, kalau ada teman saya yang menangis, kadang saya membiarkan. Karena, kalau saya yang ada diposisinya, yang saya pingin cuma sendiri. Nggak cuma itu, saya bisa berteman dengan siapa saja, nggak perlu memihak si A atau si B, netral aja. Buat apa ikut-ikutan masalah orang lain? Bikin pikiran makin sumpek. Saya terbiasa menikmati sepi dan berpikir tentang banyak hal, karena saya mencoba meluangkan waktu untuk diri saya sendiri. ‘Cause there’s nobody understands you but yourself. Kamu satu-satunya yang bisa mengerti dirimu sendiri. Untuk apa menuntut orang lain untuk mengerti? Seperti kita sudah jago mengerti diri sendiri saja.

Tapi, menjadi fleksibel nggak semudah kelihatannya. Yang namanya hidup jelas ada cobaannya. Justru seharusnya bersyukur kalau dikasih cobaan. Berarti Tuhan masih sayang, masih yakin kalau kita nggak se-lemah apa yang kita pikir. Orang fleksibel kalau punya masalah memang dihadapi sendiri, maju aja. Kalau yang punya geng? Serasa mau tawuran aja. Satu temen doang yang kena masalah, yang maju bisa 4-5 orang. Padahal nggak tahu pokok permasalahannya, nggak tahu temen yang dibela emang bener atau malah salah. Hehe. Saya, sih, disini bukan mau menjelek-jelekkan mereka yang nge-geng, toh, masih banyak mereka yang tahu mana positif, mana negatif. Cuma mau saran aja, lain kali menyikapi sesuatu secara dewasa, bukan sok dewasa.

Gitu aja, sih. Saya lagi pingin memperjelas aja kalau jadi fleksibel emang nggak mudah. Tapi, mereka yang fleksibel nggak se-lemah yang orang lain pikir, bahkan bisa jadi lebih kuat, meleset dari ekspektasi banyak orang. Fleksibel bukan berarti menutup diri untuk punya teman tetap. Tetapi punya teman tetap bisa menggiring kita menjadi anti-sosial. Lagipula, kita juga cukup dewasa, kok, untuk bisa pilih mana yang bener dan mana yang salah. Menurut saya, seiring waktu berjalan, semakin banyak hal-hal yang kamu perjuangin, dan seberapa sering kamu jatuh, disitu waktu yang tepat untuk memilih mana temen ‘asli’ kamu yang mungkin bisa dihitung pakai satu jari tangan.

October 18, 2013

Choose One: Realistic or Idealist?


Aku dengan pikiranku berusaha bekerja sama, sedang berpikir bagaimana, ya, jika kita mengambil keputusan dan ternyata kita salah mengambil langkah? Pasti kalian menjawab dalam hati, “Ya dijadikan pelajaran aja, sih.”

Hingga akhirnya aku mencoba bertanya kepada seorang teman. Mencari petunjuk, mungkin dapat menjadi hal yang bisa aku pertimbangkan. Kemudian, dia menyuruhku untuk memilih salah satu dari ‘Realistis atau Idealis’. Kurang lebih percakapan kami seperti ini:

“Realistis ya realistis. Idealis itu menuruti apa kata maumu,”
Which one is better according to you?”
“Aku suka realistis. Jadi, aku nggak memaksa. Aku tetap usaha tetapi aku biasa aja,”
“Dimana-mana harus realistis, kan, ya,”
“Nggak juga. Aku kalau masih merasa bisa, ya, memilih idealis. Aku tidak mau mendengar kata orang. Karena, realistis terdengar seperti menyerah. Aku tidak suka menyerah kalau aku masih bisa berdiri,”
“Meskipun kadang idealis bakal menjatuhkanmu? Atau bahkan yang malah membuatmu terpaksa untuk menyerah?”
“Ya. Mending mana, menyerah tetapi sudah usaha, atau menyerah karena apa kata orang?”

Lalu, otakku berusaha mencari jawaban.


Realistis memang perlu. Tetapi, kalau terlalu sering menuruti kenyataan, bagaimana mendapatkan apa yang kamu mau?

Realistis kadang membuat matamu menjadi terbuka, lebih berkawan dengan kenyataan. Tetapi, kebanyakan orang beranggapan bahwa menerima kenyataan itu menyakitkan. Ya, jelas. Kalau kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, pasti akan menambah sesak di dada. Kalau sesuai? Tentu saja kita menerima kenyataan dengan senang hati.

Because reality hurts, sometimes.

Sebaliknya, mungkin idealis terdengar agak egois. Seperti kita memaksakan kehendak kita, tidak perduli dengan kenyataan yang ada. Namun, ternyata idealis itu perlu. Setiap orang pasti mempunyai keinginan yang di cita-citakan, bukan?

Dan seharusnya, realistis dan idealis berjalan seimbang.

Yang kuhadapi saat ini, seperti aku sedang menggenggam sebuah balon di ladang yang luas dan angin bolak-balik menghembuskan nafasnya ke arah kami. Kata orang-orang yang berlalu-lalang didepanku, “Sudah! Lepaskan saja! Toh, kamu akan mendapatkan balon yang lebih bagus setelah pergi dari sana.” Tetapi, aku sudah terlanjur jatuh hati dengan balon ini. Soalnya berbeda, sih. Dan aku memilih untuk idealis. Tidak perduli seberapa banyak orang-orang yang memaksaku.

Namun, sepertinya balon ini juga ingin pergi. Berkelana di udara. Setidaknya melakukan perjalanan, mungkin. Aku sedikit menyerah. Tetapi, rasanya terlalu susah untuk melepaskan genggamanku. Aku saja tidak tahu, sebenarnya balon ini masih ingin kugenggam atau tidak? Lama-kelamaan aku berusaha realistis. Aku melepaskan genggamanku, membiarkannya pergi bersama angin. Apabila kembali, mungkin ia merindukanku. Dan jika tidak, mungkin aku akan menyukai balon yang –berbeda- lainnya. Walaupun, itu tidak akan pernah sama. 

Dan aku akan siap menggenggammu lagi, mungkin tidak sekuat dulu, itupun apabila angin berbaik hati membawamu kembali.

October 16, 2013

Takut?


Pernah nggak, sih, membayangkan bagaimana indahnya hidup, tanpa perlu merasa ketakutan? Aku sering membayangkannya. Berulang kali malah. Rasanya pasti tidak ada beban. Aku sering merasa ketakutan. Terutama ketakutan akan kehilangan orang-orang. Aneh memang, padahal sebenarnya orang-orang tidak sepenuhnya pergi dari kehidupan kita.

Aku selalu takut. Kalian takut, nggak? Kalau tiba-tiba orang yang selama ini menemani kamu, selalu ada untukmu, membagi ceritanya denganmu, pergi? Bagaimana kalo sesaat dia datang dan beberapa waktu kemudian dia menghilang? Seperti tidak ada yang benar-benar menjanjikan bahwa mereka tidak akan pergi.

Aku butuh orang yang menjanjikanku bahwa mereka tidak akan pergi. Aku selalu merasa kacau dengan pikiranku, bagaimana jika orang-orang malah meninggalkanku karena aku terlalu sibuk menahan mereka?

Awalnya, kupikir aku hanya bisa melihat orang-orang pergi dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ternyata, aku salah. Seorang teman menyadarkanku, kurang lebih dia berkata seperti ini;

Yang pergi itu pasti kembali. Kalau yang hilang, itu yang harus dicari.

Then, I realized. Aku masih bisa mempertahankan orang-orang untuk tetap tinggal. Pada awalnya, aku tidak sepenuhnya percaya dengan kata-kata itu. Hingga akhirnya, aku mencari salah satu orang yang –menurutku- pergi. Dan ternyata, dia kembali. Lalu, aku menyuruhnya untuk tidak pergi. Yah, sekedar memberitahunya bahwa aku benar-benar membutuhkannya. Aku membutuhkan orang-orang yang berada disekitarku. Aku butuh mereka meyakinkanku bahwa mereka tidak akan meninggalkanku. Karena aku butuh mereka, se simple itu.