April 27, 2017

Merasa Cukup

Aku merasa perlu mengungkapkan ini. Sudah lama sekali aku tidak mencoba meluapkan hal-hal yang tidak kuungkapkan. Hal itu dimulai semenjak aku merasa bahwa orang-orang disekitarku tidak perlu merasa 'terancam' dengan ketakutanku, jika aku tidak menceritakannya.

Ketakutanku menyeruak kembali, seperti mimpi buruk. Bahkan aku tidak mau merasakannya lagi. Bayangkan saja, aku sangat ketakutan tetapi harus menyembunyikannya agar orang disekitarku tidak perlu merasa 'terancam'. Ketakutanku memuncak ketika logikaku bahkan tidak membantu. Aneh bukan? Padahal aku sangat mengagung-agungkan kekuatan logika. Mencoba menjalani hidup dengan realistis. Tapi, walau kau berusaha sekeras mungkin, apabila kau belum siap menempuhnya, maka Tuhan pun akan berkata tidak. 

Kurasa, salah satu kunci untuk bahagia adalah dengan bersyukur. Semua orang punya definisi rasa syukur masing-masing. Baru ini aku telah menemukannya. Bersyukur ialah ketika kamu telah merasa cukup. 

April 15, 2017

When Reality Slaps You


Nyatanya,
rasa sakit akan
tamparan tangan ratusan kali,
tak akan sebanding dengan
perihnya ditampar kenyataan
walau hanya sekali.

April 1, 2017

| Blame on Me |


Been blaming myself
for too long
believing that
what's mine,
will always be
mine.

Sarah Diza

December 10, 2016

| Home |


So i decided to
stop searching for
the meaning of home since
everytime i look at you,
my heart tells me that
im already home.

Sarah Diza

May 12, 2016

| The Darkness |


She's busy,
searching for the answer of
many questions that filling her mind.

Then,
she ignores people
who wondered if
she's already lost
inside her own mind.

It's too dark,
she'll never know
what kind of place
she has been living.

She tries to go
but she can't find 
the way out.

Because the darkness
is inside herself.

Sarah Diza

May 8, 2016

| Lyf |


I imagine that life is an ocean,
and people are boats.

We sail,
follow the wind,
face the wave.

Sometimes the ocean can be so calm yet so wild
It seems so charming yet so frightening
It depends on how the boats through it

I imagine that life is an ocean,
and people are boats.

Sometimes life can be so simple yet so complicated
It can be so good yet so cruel

It depends on how you through it.

Sarah Diza

March 9, 2016

Aku kesulitan,
mengungkapkan hal-hal yang ingin kuungkapkan.
Menampakkan rasa yang ingin kutampakkan.
Terlalu terbiasa menyembunyikan,
hingga tidak tau cara menampakkannya kembali.

Luka, kujahit.
Perih, kutahan.
Tangis, kuusap.

Hingga merembet pada hal yang menyenangkan sekalipun.
Bahkan aku tidak bisa memberitahumu tentang rasa; peduli, takut kehilangan, kekhawatiran.

Yang aku lakukan hanyalah,
menyembunyikannya.

Maaf jika aku terbiasa.

September 25, 2015

Eccedentesiast.


Hari menjelang senja. 
Aku sedang duduk di depan seseorang yang kukenal baik. 
Ia menatapku, seperti tatapan kasihan. Aku tak suka. Aku paling tidak suka dikasihani.
Ia bertanya, “How’s life?
Seketika pandanganku kosong. Pikiranku menguap entah kemana.
Life?
Aku tetap diam.
Ia berkata, “Ceritakan saja. Apapun yang ingin kau ceritakan”.
“Aku harus mulai dari mana?”, tanyaku.
Ia hanya tersenyum. Aku mulai membuka mulutku dan mengungkap perih.

***

Aku mengoleksi topeng-topeng. Sangat banyak, tak terhitung jumlahnya.
Namun, semakin lama semakin habis. Entah hilang, atau dicuri orang.
Hingga aku memutuskan untuk menyerah.
Kalian boleh mengatakan aku sakit,
atau tidak waras,
atau menyedihkan,
atau apapun yang menyenangkan hati kalian.
Aku yang setiap hari kalian temui, bukanlah aku.
Dia orang lain, yang menguasaiku.
Dia tertawa, saat aku tidak ingin tertawa.
Dia menangis, saat aku tidak ingin menangis.
Tetapi, dia menguasaiku.

Mari kuperkenalkan aku yang sebenarnya.
Setiap harinya aku terbangun dengan perasaan yang kosong.
Aku selalu memakai topeng yang kunamakan topeng senang.
Setiap harinya aku membunuh diriku sendiri.
Menyediakan telinga, pikiran, perasaan untuk orang lain.
Tak apa, satu-satunya energiku ialah saat aku melihat orang bahagia karenaku.
Saat mereka sudah tidak membutuhkanku, energiku habis.
Dan aku harus pulang.
Ternyata benar kata orang. Rumah ialah tempat kamu mampu bertemu dirimu yang sebenarnya.

Diriku yang sebenarnya.

Setiap hari yang kulakukan ialah melepas topeng senang.
Kemudian duduk,
dan merenung.
Merenung,
lagi-lagi merenung.
Hingga dadaku terasa sesak dan aku tak kuat menahannya.
Kata orang, air mata membuatmu lega.
Bagiku, air mata membuatku sesak.
Rasanya sakit, sangat sesak. Tidak ada yang mampu menolong.
Aku terus menjalani hari-hariku seperti itu.
Sesak, sesak, dan sesak.
Tapi aku tidak suka mengakui bahwa aku menangis. 
Rasanya menjijikkan dan terkesan cengeng.

Bahkan saat menulis ini, aku sedang membunuh diriku sendiri.
Setiap harinya aku membunuh diriku sendiri.
Menghabiskan banyak tissue, salah satu contohnya.
Mama dan papa sering mengeluh. Kenapa tissue sangat cepat habis? Andai saja mereka tahu, anaknya sering membuang-buang tissue hanya untuk merasa lebih baik. 
Hanya untuk mengusap rasa sesaknya.

Sesak,
sampai aku tidak tahu kapan aku bisa bernapas lega.

***

Sudah bukan menjelang senja. Ini sudah berganti malam.
Pembicaraan itu ditutup tepat saat dadaku mulai terasa sesak. 
Aku hanya mampu menutup mukaku, kemudian kembali menghabiskan tissue.
Ia bertanya, “Sesakit itukah rasanya?”
Aku menatapnya. Menganggukkan kepala.
Ia hanya tersenyum. Aku terus menatapnya.
Lama-kelamaan wujudnya menjadi semu.
Aku terbangun dari lamunanku. Ia pergi.
Pergi dengan topeng senangku.
Hilang, hingga aku menyadari.

Ia adalah refleksiku.